Jumat, 12 Juli 2013

Maaf, Aku Memilih Setia :')

“Hoams” kucoba membuka mata sipitku untuk melirik jam weker berbentuk Menara Eiffel disamping ranjang tidurku. “Oh tuhann, sudah jam 6” seketika jantungku hampir terjatuh, akupun bergegas masuk kamar mandi.
“Mama kenapa nggak bangunin Rizki sih” omelku ketika menuruni tangga dan melihat Mama yang sudah seperti sales yang menawarkan berbagai makanan untuk sarapan.
“Sesekali biar kamu punya tanggung jawab dong, kamu kan cowok. Ayo buruan sarapan”
“Aishhh, sudah telat ma. Aku makan disekolah saja ma” aku segera menuju gudang untuk mengambil motor yang baru saja menjadi milikku setahun yang lalu.
Aku melaju dengan kecepatan hampir 60 km/jam, untungnya jalanan nggak semacet biasanya. Entah orang-orang sedang cuti bersama atau mungkin bolos sekolah bersama. Padahal ini hari senin, harusnya jalanan sangat padat, atau ini tanggal merah ya? Pikirku dalam perjalanan. Tapi...nggak nggak ini tanggal hitam kok, hari ini aku juga punya jadwal untuk tidak mengikuti pelajaran Biologi. Kuyakinkan diriku, okee ini beneran hari senin dan hari ini aku akan menerima beasiswa dari kantor papaku. Yippy, makan-makan deh. Hatiku yang sedang menguap-nguap kemarahan seketika sirna terselimuti kegembiraan.
“Fiuh, untung masih persiapan upacara” batinku. Kalau gagal untuk terlambat itu rasanya menyenangkan sekali. Masih dengan napas tersengal-sengal aku memasuki barisan kelas tergokilku, yah 12 IPA 2.
“Riz, telat bangun ya?” bisik cewek imut nan cantik disebelahkuku, Sintia, sahabat sekaligus cewek yang kusuka. Hanya dengan anggukan malu dan senyuman khas yang kuberikan ke gadis berambut sebahu yang tingginya kira-kira beda 50 cm dariku.
Tibalah saatnya untuk izin meninggalkan pelajaran guru terbuas, beruntung dan bersyukur sekali rasanya bebas dari auman Bu Siska hari ini. Sebenarnya sih, tertinggal 1 mata pelajaran itu sayang sekali bagiku, biasa aku bukan tipe anak pemalas seperti cowok yang lainnya. Aku punya cita-cita untuk menjadi pilot, salah satu cara lolos seleksi awal adalah aku harus berhasil meraih semua mata pelajaran unas minimal 8. Sudahlah, sesekali nakal boleh kali ya, pikirku. Aku segera mengeluarkan surat izin dan menunggu papa menjemputku.
“Ini titipan dari mama, kamu belum sarapan kata mama tadi” baru saja aku masuk mobil, papa sudah menyodorkan sekotak tempat makan berisi nasi goreng yang tadi kutinggalkan begitu saja di meja makan. Padahal kalau boleh jujur, aku sudah kelaparan sekarang. Segera kuambil dan kumakan dengan hati-hati, maklum derita pemakai behel ya seperti ini, makan saja harus pelan-pelan-pelan.
Hampir setengah jam berlalu, aku sudah berada dikantor Papa. Ternyata, masih sepi sekali, benar-benar ini papa yang terlalu rajin apa aku yang nggak sabar kabur meninggalkan Biologi sih. Sedikit demi sedikit rekan kerja papa mulai datang satu persatu bersama putra-putrinya penerima beasiswa, kukira ada 10 orang ternyata cuma 5 orang yang membawa putra-putrinya, 5 lainnya entah kemana. Diantara 5 anak itu, hanya ada 1 cewek yang menurutku, hemm aneh dan misterius. Cewek berjilbab, berkacamata, dilapisi kulit yang tak seputih kulitku, yippy kulit khas suku jawa, sawo matang. Cewek itu pendiam sekali, hanya sekilas senyum yang ia berikan padaku ketika tak sengaja saling bertatap muka.
Ketika penerimaan beasiswa, aku duduk tepat disamping cewek yang membuat rasa penasaranku mengepul-ngepul, aku mulai bernekat untuk pendekatan. Ku ingat kata sahabat-sahabatku “Kalau nggak sok kenal, bukan Rizki namanya”. Aku mulai menanyakan hal yang umum, nama yah nama. Tapi, bagaimana kalau ku tanya dan hanya dijawab dengan senyuman? Malu setengah mati kan, didepan rekan-rekan kerja papa pula. Ah, sudahlah niatku hanya untuk berkenalan, kusisngkirkan pikiran-pikiran negatifku.
“Dari SMA mana?” loh, kenapa aku malah tanya sekolah dulu, bukannya tadi rencana tanya nama? Aihh, sudahlah. Syukur-syukur kalau dijawab hehe...
“SMAN 22 , kamu?” aku nggak salah dengar kan, suara lembut itu keluar dari gadis yang cuek itu. Lega sekali rasanya, dia malah balik nanya. “SMAN 20, Rizki” Segera kuulurkan tangan besarku yang dibalas uluran tangan panjang gadis itu sambil berkata “Nabila”. Sudah saling mengenal begini itu enak banget, percakapan singkat terjadi diantara aku dan gadis yang...yahh lumayan tinggi untuk seukuran gadis normal, mungkin aku dan dia hanya beda 10 cm. Usai penerimaan beasiswa, aku dan papa pelan-pelan menuruni anak tangga, ternyata Nabila dan ayahnya sudah ada dibelakangku. “Mari om” pamitku pada ayah Nabila, entah kenapa aku lupa untuk pamit sama siNabila. Duhh memang yaa, biasaa mungkin sedang ling-lung akunya.
Sesampai dirumah, aku sedikit memikirkan Nabila, sekilas juga Sintia memasuki bayanganku, duh sial...aku diujung kegalauan rupanya. Hari demi hari berlalu, aku mulai melupakan Nabila karena memang sudah lost contact sejak itu. Rupanya semakin mendekati UNAS, rasa cintaku kepada Sintia semakin menjadi-jadi. Hingga tak sadar, ketika asyik tidur-tiduran ku buka Interaksi twitterku. Kaget setengah mati ketika kudapati ada 1 followersku bertambah dan itu Nabila, dengan mention “Follow back ya”. Wow, anak ini tau twitterku dari mana, rasa penasaran dan curigaku mulai saling bermunculan. “Pasti dia mulai suka sama aku” wahh, rupanya rasa Grku mulai kambuh. Oke, ku follow dia dan ku bales mentionnya agar ia tak kecewa. Ohh ternyata, sudah. Dia Cuma ingin menambah jumlah followers dan following twitternya sepertinya, tak ada mention balasan lagi darinya. Yasudahlahh, mungkin memang aku harus mengakhiri masa lajangku dengan Sintia, usai UNAS.
Waktu demi waktu berlalu, UNAS telah selesai begitu juga dengan masa lajangku, aku dan Sintia sudah resmi menjadi sepasang kekasih yang masih hangat-hangatnya. Pengumuman kelulusanpun juga sudah kuterima, dan sedihnya nilaiku tak sesuai dengan yang ku harapkan, benar benar rasa down melandaku, Sintia yang kuharapkan selalu memotivasiku ternyata salah. Dia malah selalu mencari-cari kesalahan yang kuperbuat, rupanya dia sudah mulai bosan dengan hubungan asmara yang baru bertahan 1 bulan.
“Riz siap-siap ya, besok kita ke malang, rekreasi tahunan dikantor papa” ucap mama ketika aku asyik menikmati sate ayam Pak ahmad, tetangga sebelah. “Oke ma” aku segera melupakan nikmatnya sate ayam itu dan bergegas masuk kamar, pengen rasanya segera tidur, tak sabar menunggu hari esok, pasti ada Nabila disana, yah...ini kan hari liburan, pasti dia ikut. Ku siapkan beberapa pakaian dan aku terlelap dalam sunyinya malam sabtu itu.
Kesokan harinya aku bangun dengan wajah secerah sinar matahari pagi ini, aku segera memanaskan mobil dan berkali-kali mengklakson agar mama dan papa buru-buru masuk mobil. Memang usai kepergian kakak ke Paris, aku seperti anak tunggal yang dimanjakan oleh papa dan mama, alhasil ya beginilah...aku sering berbuat semauku tanpa pedulikan apapun.
Jarum jam yang melingkar di tangan kiriku menunjuk ke angka 8, rupanya rekan kerja papa kalau masalah rekreasi bisa tepat waktu gitu ya. Sebelum berangkat papa menyuruh semua untuk berkumpul berdoa bersama, segera kucari gadis berkacamata itu, aku tak menemukannya, tapi aku melihat sosok yang hampir mirip turun dari bus mini pariwisata yang sengaja disewa untuk keluarga yang tidak mempunyai mobil pribadi. Ada 2 cewek berjilbab dan tanpa kacamata, tapi yang satu tidak setinggi Nabila,  apa mungkin mereka kembar, atau adiknya. Oh entahlahh...aku mencoba mendekati seseorang yang kuyakinkan diri bahwa itu Nabila, yah aku mecoba senyum ternyata tak kusangka, dia lebih ceria dan lebih ramah dari sebelumnya.
“Hai Riz” ucapnya sambil mengulurkan tangan padaku, kusambut tangannya dan kubalas sapaan dengan penuh semangat. Benar-benar diluar dugaanku, awalnya kuanggap dia cuek se cuek cueknya cewek, ternyata aku dan dia tiba-tiba seperti teman yang lama akrab dan tak jumpa. Hingga tak terasa aku mengobrol dengannya cukup lama dan terhenti ketika Papa menegurku dengan dehaman yang khas “Mohon tenang, mari kita mulai berdoa” malu setengah mati sebenarnya, demi apa ini sampai aku nggak sadar kalau dilihatin rekan kerja Papa, termasuk Ayah Nabila, mungkin Nabila merasakan hal yang sama.
Hoamss, biasanya Surabaya-Malang cuma ditempuh dalam waktu 2-3 jam. Ini sudah jam 1 masih belum sampai hotel malah, efek liburan kendaraan padat pakai banget. Nggak tahu apa capeknya kaki nginjak rem gas rem gas, gara-gara macet 1 tempat wisata dibatalkan.
            “Iya, langsung hotel saja pa. Nanti malam saja biar anak-anak muda yang ke Batu Night Spectacular” usul Mama setengah melirik kepadaku, sepertinya mama tahu kalau aku ada perasaan sama Nabila, ini sebuah pancingan.
            Benar-benar hari ini serba diluar dugaan, masa iya makan siang dan sampai di hotel jam 3 sore. Untungnya cuaca sore yang sejuk dengan rintikan hujan berhasil mencairkan amarahku, ditambah lagi melihat wajah yang sudah nggak aneh lagi bagiku, sayang sekali Nabila langsung menuju kamar entah dia diet atau kesal dengan kondisi jalanan seperti yang kurasakan juga. Asyik-asyik menatap Nabila yang melintas didepanku tanpa melihat sedikitpun aku, tiba-tiba mama heboh.
            “Eh Riz, nanti malam kamu sama anak remaja lain ke BNS aja ya. Pake mobil Papa, kamu yang jadi supir” sebenarnya sangat bahagia kalau Nabila ikut, tapi masa iya Cuma pergi berdua.
            “Anak remaja siapa aja,ma? Aku nggak kenal”
            “Loh, bukannya tadi kamu sempet ngobrol sama anaknya pak Dermawan? Tadi mama sudah rundingan sama bu Dermawan, beliau setuju tuh. Ajak aja dia”
            “Nabila maksud mama? Masa cuma berdua ma?”
            “Ya, nanti diskusi lagi ya. Ayo buruan ke kamar, mama capek” Walaupun dimanja, tetep saja kalau mama nyuruh aku harus segera memenuhi permintaannya.  
            Malam ini, malam minggu yang kutunggu. Saatnya malam puncak acara rekreasi kantor, sudah seperti biasa pasti diisi suara-suara merdu rekan-rekan kerja Papa, nostalgia deh pasti. Daripada malas mendengarkan lagu-lagu jaman dulu, usai makan malam aku keluar ruangan untuk mencari angin segar. Tiba-tiba angin malam membawa hembusan rinduku pada Sintia, “Sintia masih marah nggak ya? Seharian nggak ada kabar” gumamku sendiri di heningnya malam.
            “Sintia, cewek kamu Riz?” suara itu membuatku terkejut dan entah seketika aku gagap dan bingung mau bicara apa.
            “Ehh, kam...kamu Bil. Ehm...iya, ngomong-ngomong kamu mau kemana?”
            “Mau ke kamar, bosan disana. Oh, ya tadi katanya ayah yang remaja mau ke BNS ya. Emang jadi?”
            “Kata mama sihhh juga gitu, tapi nggak tau lagi deh”
            “Rizkiii, kamu disini ternyata. Bagaimana? Cuma kamu sama Nabila yang ke BNS?”
            “Loh...yang lain ma?”
            “Mama itu tanya ke kamu? Soalnya tadi mama sudah menawarkan, nggak ada yang mau. Cuaca mendung katanya, takut bahaya di jalan”
            “Yasudah, berarti nggak jadi kan ma?” sebenarnya ingin sekali aku hanya berdua dengan Nabila, tapi karena statusku kan masih pacarnya Sintia.
            “Hemm,,,adeknya Nabila mungkin mau ikut?” mama masih saja ngeyel
            “Ehh nggak mau tante, adek pusing katanya”
            “Yasudah, kalau gitu terserah kalian ya. Itu kan urusan remaja, yuk..mama kesana dulu ya Riz” Mama berlalu meninggalkan aku dan Nabila, entahlah terkadang aku malu punya mama yang bawel kayak begitu.
            “Jadi, gimana Bil?” Aku memecahkan keheningan yang terjadi setelah kepergian mama
            “hah..apanya?” Nabila terlihat kebingungan, wajahnya terlihat kecewa ketika acara BNS itu batal.
            “Ke BNSnya?”
            “Kata kamu nggak jadi kan? Yasudah, aku ke kamar dulu ya. Sepertinya rekreasi kali ini cuma menghabiskan waktu di hotel”
            “Bil..Bil..tunggu” tak sadar aku menarik tangan Nabila yang hendak pergi.
            “Jangan ngomong gitu dong, papaku ketua panitia disini. Bagaimana kalau cuma kita berdua yang ke BNS?”
            “Ehm, maaf ya Riz. Aku nggak bermaksud gitu, tapii”
            “Sudahlah, kamu ijin orangtuamu ya. Ayo come on” ajakku bergembira
            Tak lama aku menunggu, Nabila keluar dari ruang acara dengan wajah yang ceria kembali sambil mengangguk padaku. Secepat kilat aku lari kekamar, dan mencuri kunci mobil papa. Segera aku dan Nabila melaju ke BNS untuk menghabiskan waktu liburan ini. Cuaca yang mendung membawa suasana hati yang berbeda. Rupanya aku mulai tertarik dengan cewek yang duduk disebelahku sekarang.
            Ku habiskan malam minggu yang indah itu dengan menaiki beberapa wahana bersama seorang bidadari yang baik hati dan datang saat aku benar-benar membutuhkan cewek seperti dia. Andai saja statusku belum berpacaran, mungkin malam ini dibawah lampion miniatur Menara Eiffel, kunyatakan cintaku kepadanya. Benar-benar Nabila sangat berbeda dari pertama kali yang kulihat, tanpa kacamata ia terlihat sangat manis seperti kembang gula yang saat ini ku makan bersamanya.
            Semakin lama aku dan dia berada di tempat romantis ini, semakin kenal juga aku dengannya. Banyak sekali topik yang kita bicarakan, mulai dari galau nilai akhir, galau gagal SNMPTN, galau SBMPTN hingga galau urusan cinta, sampai-sampai aku tak sengaja keceplosan curhat masalahku dengan Sintia.
            “Bil, andaikan aku belum jadi pacarnya Sintia. Mungkin aku bisa menjadi milikmu” kuberanikan diri untuk jujur di cafe khas BNS, perhentian terakhirku dan Nabila setelah capek beruji nyali di banyak wahana.
            “Maksud kamu Riz?” entah Nabila nampak pura-pura bodoh atau memang nggak mendengar ucapanku karena kerasnya musik di dalam cafe.
            “Aku cinta sama kamu Bil” aku setengah teriak, yang mengakibatkan Nabila tersedak ketika minum susu coklat hangat pesanannya.
            “Bil, kamu nggak papa kan?” Nabila malah terkekeh dan tersenyum, lalu mengabaikan tumpahan susu tersebut.
            “Riz, kamu serius ngomong seperti itu?”
            “Aku serius Bil” Nabila diam sejenak lalu menunduk, mungkin ia malu atau apalah aku bukan dukun yang bisa membaca pikirannya. Aku kaget ketika tangan dinginnya memegang tangan besarku yang cukup hangat menurutku.
            “Riz, jujur. Dari awal aku ketemu kamu, aku sudah ada perasaan sama kamu. Makanya aku langsung ngefollow kamu, dan bahkan aku mencoba cuek itu untuk ngecek, bagaimana sih respon kamu. Ternyata kamu sama sekali tak meresponku, oke...mungkin aku jelek. Aku sadar diri dan mencoba melupakan kamu saat itu” Nabila menarik nafas sejenak seperti bingung mau bicara apa,ku genggam erat tangannya berusaha mengembalikan konsentrasi agar dia melanjutkan ucapannya
            “Tapi, sekarang...aku nggak nyangka kalau kamu punya rasa yang sama. Aku juga ingin memilikimu, tapi Sintia?” mata Nabila mulai berkaca-kaca, takkan tega aku melihat dia menangis disini, ingin ku dekap tubuh gadis berjilbab ini, tapi itu tak mungkin.
            “Apa aku putuskan Sintia sepulang dari Malang?”
            “Jangan Riz, jangan. Kamu cinta sama Sintia kan sudah lama, setialah kepadanya”
            “Tapi kamu?”
            “Sudahlah Riz, anggap aja aku dan kamu nggak pernah saling cinta ya, kita teman. Oke” syukur, air mata gadis didepanku ini batal keluar. Aku menghela napas, heran,  masih ada ya cewek yang baik kayak dia
            “Hemmm, oke kita teman. Teman selamanya” aku mengaitkan jari kelingkingku ke jari kelingking Nabila.
            Tak terasa, jarum jam sudah ke arah jam 11. Dini hari, jalanan sudah longgar sangat mendukung untuk mempercepat waktu sampai di hotel. “Bil terimakasih ya?” aku kembali meraih tangannya sebelum ia keluar dari mobil
            “Buat apa Riz?”
            “Buat malam ini, kamu sudah mau jujur dan aku senang dengan kejujuranmu”
            “Iya, sama-sama ayo buruan keluar” aku keluar dari mobil.
Dalam sunyinya suasana malam di hotel kami berjalan berdua dan kali ini aku berhasil merangkul cewek tegar disebelahku. “Rizki lepasin deh” Nabila mencoba menjauhkan tanganku dari tubuhnya dan akupun kalah.
“Kan kita teman. Teman tapi mesra”candaku dan segera meninggalkan Nabila yang menaiki tangga hendak kekamarnya.
“Rizkiii...”Nabila sedikit gemas melihat ulahku dan ia berlalu menuju kamarnya di lantai 2.
Benar-benar aku masih memikirkan indahnya malam ini, hingga terlelap dalam empuknya kasur dan dinginnya kota batu. Keesokan harinya, aku tak menemui gadis yang baru saja mesra dengan ku tadi malam, mungkin ia masih terlelap dalam selimutnya atau memang ia sudah puas dengan liburan tadi malam sehingga hari ini cuma mengurung diri di dalam kamar?. Berbagai diagnosa mengelilingi kepalaku, bukan Rizki namanya kalau nggak hobi mendiagnosa.
Hari ini, ada jadwal menuju perkebunan strawberry. Ingin ku ajak Nabila, tapi terlambat. Ia melewati kamarku yang tepat berada dilantai 1 dengan membawa sekantong strawberry, “Rizkiii” teriaknya.
“Bil Bil” aku langsung berdiri dari tempat duduk santaiku dan menghampirinya
“Kok ke kebun nggak ngajak aku?”
“Ihh, kamu sih bangunnya siang amat. Tadi aku sudah tanya ke mama kamu, kata mama kamu, kamu masih mimpi indah. Yasudah aku pergi sama keluargaku deh”
“Hemm, yaweslah. Pasti deh nanti aku jadi bodyguard jeng-jeng itu”aku menunjuk ke kerumunan mama bersama istri-istri rekan kerja papa.
“haha, Rizki yang sabarr yaaaa”ejek Nabila sambil meninggalkanku
“Oh ya, semangat buat SBMPTN” Nabila memberikan genggaman tangan semangat yang luar biasa padaku.
Ternyata saat itulah, aku dan dia terakhir bertemu. Pas pulangpun aku kehilangan jejaknya, entah rombongan bis mini sudah pulang duluan atau bagaimana. Oke aku pulang dengan sedikit rasa kecewa tapi banyak rasa bahagia. Sesampai di Surabaya, aku memperbaiki hubunganku dengan Sintia. Syukurlah, sejak pertengkaran itu...Sintia bisa merubah sikap egoisnya. Mungkin memang ini cara tuhan menghadirkan cinta untukku. Jikalau boleh aku request sebuah lagu, mungkin lagu sang juara X-Factor Indonesia yang pantas untukku “Aku memilih setia”.
Siang hari yang indah aku ingin mengirimkan sebuah lirik untuk Nabila, hanya melalui Direct Message twitterlah aku bisa menyampaikan pesan itu, Kuberi judul “Maaf ya Bil, Aku memilih setia” :)

T'lah banyak cara Tuhan menghadirkan cinta
Mungkin engkau adalah salah-satunya
Namun engkau datang di saat yang tidak tepat
Cintaku telah dimiliki…

Inilah akhirnya harus kuakhiri
Sebelum cintamu semakin dalam
Maafkan diriku memilih setia
Walaupun ku tahu cintamu lebih besar darinya

Maafkanlah diriku tak bisa bersamamu
Walau besar dan tulusnya rasa cintamu
Tak mungkin untuk membagi cinta tulusmu
Dan aku memilih setia…

Seribu kali logika ku untuk menolak
Tapi ku tak bisa bohongi hati kecilku
Bila saja diriku ini masih sendiri
Pasti ku memilih dan memilih mu

            Balasan yang bijak dari Nabila “ It’s okay Riz, no problem :’). Makasih ya dan Selamat yaa kamu sama Sintia semakin mesra aja di timeline :) 



9 komentar:

Aulia Rahma mengatakan...

kyk'nya aku pernah denger crita itu deh.. kyk crita spa gtu.. *pura2 lupa.. :P

Putri Rahayu mengatakan...

Wkwkwk cerita sapa sih? kan beda lagi aulll

Aulia Rahma mengatakan...

tapi kan ada yg mirip2 dikit.. :P

Khairul Bariyah mengatakan...

ini kayak postingan blog mu yang ketemu someone itu bukan put? :))
apik apik :3

Putri Rahayu mengatakan...

Aulia: Iya, tapi kan bedanya buanyak
Yayah: Hemm iya cuma bagian depannya hehe

Putri Rahayu mengatakan...

yayah: itu apik benerab apa apik palsuan?wkwkwk

Aulia Rahma mengatakan...

Btw banyak harapan'nya dicerpen ini.. hehehe.. :P

Khairul Bariyah mengatakan...

oalah. hahaha :D tapi beneran apik kok puuuut :3
eh puttt, follback blog ku yaw :v #eaaak promosi wkwk

Putri Rahayu mengatakan...

aulia: haha enggak tuh :P
yayah: okee, makasihh yayo :*. yyaaya sek gimana ini cara folbacknya haha

Poskan Komentar