Sabtu, 12 Oktober 2013

Kado Untuk Mama


            “Dinda...Aldy...Ayo segera turun, makan pagi sudah siap sayang.”teriak mama mengagetkanku yang sedang asyik memahami rumus matematika untuk ujian hari ini.
            Segera kututup buku sakuku dan kupaksakan kakiku melangkah menuju ruang makan. Sejenak aku melihat beberapa hidangan pagi ini, hanya ada nasi goreng, roti bakar, ayam goreng dan telur dadar serta segelas susu coklat favoritku.
            “Yah, kok ayam lagi sih Ma. Aku makan roti aja deh.”keluhku
            “Roti itu untuk kak Aldi sayang, Kamu kan hari ini ujian, harus makan nasi ya.”
            “Dinda, di luar sana banyak anak-anak yang ingin makan ayam goreng. Kamu hargai masakan Mama pagi ini ya, makan seadanya nggak usah mengada-ngada. Oke bawel.” Nasihat kak Aldy sambil mengusap rambutku yang terurai panjang selembut sutra.
            Sebelum mendengar tambahan nasihat dari Papa yang sedari diam dari tadi. Aku segera mengambil Nasi goreng dan telur saja tanpa Ayam, karena aku sudah bosan dengan hewan ovipar satu ini. Bagaimana tidak? Hampir seminggu ini, kalau tidak soto ayam ya ayam goreng kalau nggak begitu ya fried chicken, bosan banget kan?
Inilah aku, Adinda Claudia siswi bawel yang saat ini duduk di kelas 3 SMP dan aku putri bungsu pasangan Bapak Hidayat dan Ibu Suci. Aku lahir di Surabaya, tinggal di Surabaya, sekolah di Surabaya dan aku sangat mencintai Surabaya. Aku punya kakak yang sangat bijak dan sangat usil kalau lagi gila, tapi sangat bermanfaat kalau aku butuh tentor matematika dadakan. Namanya Reynaldy Putra, aku biasa manggil kak Aldy atau kak hebat. Bagi kak Aldy yang masih duduk dikelas 3 SMA, masa muda adalah masa dimana kita mencari jati diri yang sebenarnya. “Karena itu, selagi ada waktu jangan sia-siakan masa mudamu. Carilah info sebanyak-banyaknya tentang apapun yang ingin kamu ketahui, jangan mudah menyerah.”kuiingat betul pesan kak Aldy ketika aku mencurahkan isi hatiku yang sedang galau kepadanya.
Usai makan pagi, aku segera menuju mobil dan menunggu Papa dan Mama yang masih bingung mencari kunci rumah yang hilang entah diambil siapa. Kulihat kak Aldy sudah mengeluarkan motornya dan seketika timbul rasa takutku terlambat ke Sekolah, segera aku keluar mobil.
“Kak Aldy, Aku bareng kakak ya. Ini sudah jam 6, aku ada ujian matematika jam pertama kak, aku nggak mau terlambat hanya karena masalah pencarian kunci.”wajah memelasku berhasil merayu kak Aldy yang sebenarnya jalan sekolahku dan sekolahnya sangat berlawanan arah.
“Ma, Pa, Aku berangkat sama kakak ya. Aku takut terlambat, Assalamualaikum.” Aku hanya berteriak dari luar rumah entah Papa Mama mendengar atau tidak. Kak Aldy segera menjalankan motornya dan Akupun tersenyum bahagia, karena akhirnya selama 3 tahun keinginanku diantar kakak ke sekolah sekali saja terkabul hari ini.
Ujian Matematika tiba, dengan senang hati dan wajah tersenyum indah bagai sang fajar pagi ini kuterima soal ujian dan perlahan kukerjakan seteliti mungkin. Dalam waktu 1 jam Aku sudah berhasil menyelesaikan semua soal dan sangat yakin akan mendapatkan hasil maksimal. Lain lubuk lain belalang, lain pelajaran lain juga ujiannya. Yah, Aku sangat kesulitan ketika mengerjakan soal Bahasa Indonesia. Entah apa penyebabnya, banyak jawaban yang membuatku galau. Semua yang aku pelajari sama sekali nol, tidak ada yang keluar satupun.
Sampai di rumah segera kututup rapat pintu kamar dan tidak sanggup jika malam ini, mama akan dapat kabar buruk tentang nilai bahasaku dari Ibu Yuli, guru bahasa Indonesia yang masih sahabat Mama dan selalu melaporkan terlebih dahulu nilaiku pada Mama. Aku tertidur dalam rasa sedihku dan tak sadar kalau aku melalaikan sholat Ashar dan Maghrib.
“Dinda...Dinda...Dinda, kamu ngapain? Ayo makan malam dulu, ini Mama belikan Nasi Rendang” ketukan dan panggilan Mama dari luar mengagetkanku, segera Aku beranjak bangun menuju ruang makan. Mama mulai melotot ketika melihatku.
“Kamu bangun tidur?”tanya Papa, aku hanya mengangguk pelan dan menunduk
“Mama bilang berapa kali sih, waktu ashar dan maghrib itu nggak boleh tidur, bisa menyebabkan gila Dinda. Cobalah kamu biasakan tahan dulu hingga usai isya, barulah usai sholat Isya kamu boleh tidur. Yasudah, kamu makan. Terus segera mandi air hangat ya.”Nasihat Mama panjang lebar dan aku hanya bisa mengangguk seperti orang lupa segalanya.
Baru sadar kalau aku belum makan siang, segera kuhabiskan makan malamku sebanyak-banyaknya dan kuceritakan ke Kak Aldy dan Papa tentang ujian Matematikaku hari ini. Entah saat itu Mama pergi kemana habis menasihatiku tadi, mau minum karena salivanya mulai habis atau ngapain aku tidak tahu pasti. Mama tiba-tiba datang dengan telephone dalam genggaman dan kembali menatap mataku. Deg....Apalagi yang salah padaku hari ini?
“Dinda, kamu kan orang Indonesia lalu belajar bahasa Indonesia berapa tahun?”
“Sejak kecil Ma.”aku menjawab lirih dan mulai mengingat, pasti Mama barusan dapat laporan dari Bu Yuliana tentang nilaiku nih, mampus deh.
“Lalu, kenapa nilai ujian Bahasa Indonesiamu hari ini mendapat 4 din? Kenapa? Mama nggak pernah ngajari kamu bahasa Indonesia? Kamu sudah Mama beri tambahan belajar di luar, sudah ada Kakakmu yang siap membantu. Tapi kenapa, semakin kamu besar, Nilai kamu semakin turun? Bukan hanya di bahasa Indonesia, begitu juga Biologi dan IPS.”bentak Mama
“Mama nggak pernah ngajari aku, Mama dan Papa hanya pernah cari uang nggak pernahkan peduli sama pelajaranku, Mama cuma bisa menuntut nilai yang bagus, nilai yang bagus dan rangking pertama. Bukannya aku sudah memenuhi itu semua Ma? Kenapa sih, cuma karena nilai Bahasa Indonesia 4 aja, Mama marah-marah kayak gini? Toh, Mama kalau ngasih aku tambahan pelajaran di luar juga yang murahan, beda banget sama kakak yang selalu masuk kelas mahal. Jadi, ya jangan terlalu menuntut Dinda seperti itu dong.”Aku berdiri dan meninggalkan meja makan dengan hati yang sangat-sangat bersalah karena sudah berbicara yang tidak sopan pada Mama.
Aku membersihkan diri dan mengambil air wudhu, Aku menangis dalam sujudku memohon ampunan dari sang Ilahi, imajinasiku merasakan Allah mendekap tubuhku dan aku sangat tenang dalam sajadah ini. Tapi hatiku masih merasa sakit dengan semua ini, entah ini sebuah tekanan batin yang lama kusimpan atau hanya gejala stress yang belum aku mengerti.
“Dinda, Ini kakak. Tolong kamu bukakan pintu yah, nggak ada Mama sama Papa kok disini. Dinda pinter kan?”suara kakak memang sangat lembut cuma kak Aldy malaikatku. Aku membuka pintu dan segera kupeluk erat kak Aldy, Aku menangis dalam dekapannya kali ini bukan imajinasi. Aku juga segera menjelaskan penyebab nilai bahasa indonesiaku hari ini buruk.
“Kakak tahu tekanan yang kamu alami, kakak juga pernah merasaka bahkan mungkin sampai saat ini. Tapi kakak mencoba mengabaikan perasaan-perasaan seperti itu, kakak mencoba berpikir dewasa. Kamu nggak perlu iri sama kakak yang ikut kelas ekslusif di bimbel, sekarang pelajaran SMA dan SMP itu masih sangat sulit SMA. Kakak yakin kalau kamu SMA besok, pasti Kamu juga merasakan kelas ekslusif seperti Kakak. Karena, Kakak dulu juga pernah merasakan kelas biasa seperti kamu dan Kakak rasa itu tidak penting, yang penting adalah kesadaran dari dalam diri kita untuk belajar dan bagaimana cara kita belajar sebentar tapi efektif,” Aku hanya mengangguk mendengar nasihat kakak yang berlogat seperti Pak Mario Teguh.
“Yasudah, kamu nggak usah nangis lagi. Jaga kesehatan untuk menatap hari esok, buktikan pada Mama kalau kamu bisa. Oke adek bawel?”
“Oke kak, makasih buat nasihatnya kakak hebat.”
“Yasudah, good night Dinda.”Kakak menepuk bahuku dan meninggalkanku yang sudah siap untuk pergi ke pulau kapuk.
Keesokan harinya, kudapati diriku berada di ruangan serba putih dan kulihat gantungan infus disampingku, seperti rumah sakit pikirku, kucubit tanganku dan “Au”. Kakak yang tidur disampingku terbangun mendengar jeritan pelanku, “Ini nyata”pikirku.
“Kak, Aku kenapa? Mama sama Papa mana?”
“Kamu tenang ya, 2 hari ini kamu panas tinggi dan menggigil tanpa sadarkan diri, Mama khawatir sama keadaanmu dan akhirnya Kami segera membawa kamu kesini. Mama dan Papa masih ada keperluan dengan dokter. Kamu mau minum?” Aku mengangguk
“Sayang, kamu sudah sadar. Alhamdulillah, maafkan Mama ya sayang, gara-gara Mama kamu jadi seperti ini.”ucap Mama yang tiba-tiba datang dengan muka cemas
“Aku yang salah kok Ma, maafkan Dinda juga ya Ma. Dinda sekarang sudah nggak papa kok, Dinda sudah sehat Ma. Habis ini Dinda boleh pulang kan? Dinda mau sekolah”
“Dinda, untuk saat ini Dokter menyuruh kamu untuk istirahat selama 1 minggu hingga kamu benar-benar pulih. Kamu sabar yah Sayang, kalau Dinda takut tertinggal pelajaran, Papa panggil guru privat untuk Dinda”Papa mengusap rambutku dan kulihat tangan Papa terbelit rambut rontokku yang cukup banyak tapi Papa segera menyembunyikan agar tidak kulihat.
“Pa, Ma, sebenarnya Dinda sakit apa? Rambut Dinda kenapa rontok? Sebulan lagi Dinda mau UNAS Ma, Pa. Tolong jelaskan penyakit Dinda, jangan ada dusta diantara kita.”
“Dinda, kamu cuma demam kok, rambut kamu rontok itu karena kamu stress atau bisa jadi kamu belum keramas ya?”Kak Aldy mencoba menghiburku Aku pura-pura tersenyum agar Papa Mama tidak khawatir, tapi jujur aku masih penasaran dengan semua ini.
Selama seminggu di Rumah Sakit, setiap hari Sahabat-sahabatku di Sekolah datang menjenguk dan membawakan buku pelajaran lalu menjelaskannya kepadaku. Aku juga tidak mau bergantung dan hanya tidur di ranjang besi ini. Sesekali kusempatkan diri untuk belajar sendiri, Sesekali juga Kakak yang menjadi tentor gratisku.
Tiga minggu menjelang UNAS aku dilarang untuk pergi sekolah, tubuhku benar-benar bertambah lemah saat ini, mau tidak mau Aku harus tetap dirawat dirumah sakit demi bisa mengikuti UNAS yang sudah berada di ujung tanduk. Saat kakak UNAS, Aku hanya bisa mendoakan dari Rumah Sakit dan mencoba tegar agar Kakak fokus di UNASnya. Aku ingin Kakak bisa meraih hasil UNAS tertinggi, begitu juga dengan diriku.
Waktu demi waktu berlalu, tibalah saat hari perangku dan tempat perangku ada di rumah sakit ini, aku siap melaksanakan UNAS hari ini. Aku yakin dengan bekal intensif 1 bulan di Rumah Sakit bersama Kak Aldy, Mama, Papa dan sahabat-sahabatku aku pasti bisa mengikuti UNAS dengan lancar.
Alhamdulillah, walaupun Aku berbeda dengan teman-temanku yang sehat disana tapi aku bisa mengerjakan dengan lancar. Sebulan menunggu hasil, dokter mengizinkanku dirawat di rumah saja. Dalam proses menunggu hasil itu, walaupun Kakak sibuk mempersiapkan untuk tes tulis masuk PTN tapi kak Aldy selalu menemaniku, selalu mengingatkan aku untuk minum obat dan selalu mengajak aku nonton walau hanya sekedar menonton spongebob atau kartun lainnya.
Hingga menjelang pengumuman hasil UNAS, usai dokter memeriksa keadaanku, aku berusaha mendengarkan hasil diagnosa dokter, terdengar lirih bahwa penyakit kanker otakku semakin parah dan hidupku tidak lama lagi. Mendengar itu seketika aku terdiam dan ingin sekali memberontak dengan keadaan ini.
“Kenapa Mama dan Papa tidak pernah memberi tahu Dinda kalau Dinda mengidap kanker. Kenapa mereka tega sama Dinda?”batinku bertanya-tanya, air mata mulai menetes.
Aku mencoba bertahan, umurku tinggal sebentar lagi aku nggak mau mencari masalah sama orang tuaku, kucoba simpan sendiri rasa sakit hati ini atas pengkhianatan dari keluargaku sendiri. Tapi kucoba berpikir dewasa, mungkin mereka tidak ingin Dinda sedih. Yah, aku harus berpikir dewasa seperti kata kak Aldy.
Pengumuman tiba, seminggu yang lalu Kak Aldy meraih nilai UNAS tertinggi di sekolahnya begitu juga Aku. Aku tidak menyangka ketika Mama, Papa dan Kak Aldy pagi ini tiba-tiba datang dan membawa kabar bahagia itu. Aku lulus dengan nilai tertinggi di Sekolah, tapi surprise itu serasa hanya kulihat dengan mata yang buram, aku setengah sadar begitu juga ketika aku tersenyum. Aku masih ingat kalau 2 hari yang lalu adalah hari ulang tahun Mama dan Aku belum sempat memberi kado buat Mama.
Allah maha adil, sebelum aku pergi meninggalkan dunia ini setidaknya dengan nilai inilah aku bisa membahagiakan Keluargaku dan aku mencoba berkata lirih kepada Mama sambil memberikan selembar surat yang sempat kutulis tadi malam.
“Ma, Nilai UNAS ini adalah kado untuk ulang tahun Mama. Dinda minta maaf hanya bisa memberi ini semua kepada Mama, Dinda berharap Mama selalu bahagia disini bersama Papa dan Kak Aldy.”ucapku lirih, aku mulai melemah dan mendengar hembusan napas yang berhasil kuhirup kupeluk erat Mama.
“Untuk Papa, maafkan Dinda yang selalu bawel di rumah ini”
“Dan untuk Kak Aldy, terimakasih telah menjadi kakak terhebat dalam hidupku. Tolong jaga Mama dan Papa, bahagiakan mereka ya kak. Dinda pamit dulu”
“Dinda sayang, kamu ngomong apa sih, kamu kuat din kamu kuat.”Kak Aldy menyemangatiku, tapi aku rasa ini sudah bukan duniaku
“Lailahailallah Muhammadurrasulullah”aku mengucap kalimat terakhir untuk dunia ini.

***


0 komentar:

Poskan Komentar